Seni Ujung Jari
Seni Ujung Jari
Wulan Safitri
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan pelajar di Yogyakarta, Danan menemukan ruang seni terbengkalai yang dulunya menjadi tempat klub gamelan sekolahnya dan bertekad menghidupkannya kembali. Dengan dukungan Ratih, skeptisisme Bima, serta kehadiran Chika yang berbakat namun penuh tekanan, klub gamelan mulai bangkit meski diwarnai konflik dan tantangan. Saat pertunjukan pertama mereka semakin dekat, ketegangan meningkat, memaksa setiap anggota menghadapi keraguan dan mengasah keterampilan mereka. Dengan bimbingan Ki Joko, mereka berusaha menampilkan gamelan bukan sekadar sebagai seni, tetapi sebagai warisan budaya yang harus dijaga. Lewat perjalanan ini, mereka belajar bahwa seni bukan hanya tentang melodi, tetapi juga tentang persahabatan, keberanian, dan makna kebersamaan.
